Belajar Computer Dunia Maya

Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Januari 2012

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PENANAMAN NILAI DAN PEMBIASAAN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Semester VI
Mata Kuliah Ilmu Jiwa Agama (IJA)
Dosen Pengampu: Drs. H. A. Rif’an, M.PdI.

Oleh: Ahmad Saefudin

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan Agama yang sumbernya pada nilai-nilai Qur’an semakin diperlukan oleh anak-anak kita, untuk mempersiapkan masa depannya yang lebih maju, kompleks, canggih, dan penuh tantangan. Mengapa anak-anak? Apakah orang dewasa tidak lagi membutuhkan pendidikan Agama wa bil khusus pendidikan Agama Islam?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita sejenak berpaling pada pendapat Benyamin Spock yang mengatakan bahwa usia 0-12 tahun merupakan masa emas anak untuk dirangsang intelektual dan kreativitasnya, karena 80% perkembangan anak ditentukan pada usia tersebut. Hal ini sekali lagi bukan berarti kita menafikan keekfetifan pendidikan Agama Islam pada usia dewasa. Bukankah penyair Arab telah bersenandung, belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar di masa dewasa ibarat mengukir di atas air? Rasulullah sendiri telah berstatemen melalui sabda yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah; “Didiklah anak-anak kalian dan buatlah pendidikan mereka itu menjadi baik”.

Dari latar belakang ini, jelas bahwa penanaman pendidikan Agama Islam sangat efektif jika dilakukan pada usia anak-anak sehingga dewasa nanti akan menjadi bekal dalam kehidupan sehari-hari (pembiasaan).

B. Pembatasan Masalah

Sebagai antisipasi penulis agar pembaca tidak mengalami ambigu dan supaya pembahasan lebih fokus, maka penulis memberikan batasan-batasan sebagai berikut:

1. Pendidikan : memelihara dan memberi latihan, ajaran, bimbingan mengenai akhlak dan kecerdasan berpikir. Dengan menarik lebih dalam, maka makna pendidikan yaitu proses pengubahan sikap dan tatalaku seseorang dalam mendewasakan manusia.

2. Agama : sistem, prinsip kepercayaan kepada Tuhan (dewa dan sebagainya) dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang telah bertalian dengan kepercayaan itu.

3. Islam : agama yang diajarkan Nabi Muhammad SAW berpedoman kepada kitab suci Al-Qur’anyang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah SWT.

4. Penanaman : berasal dari kata dasar tanam yang berarti menaburkan paham atau ajaran.

5. Pembiasaan : melakukan sesuatu seperti yang sudah-sudah.

C. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, maka penulis merumuskan beberapa masalah antara lain:

1. Bagaimana pendidikan Agama Islam dengan penanaman nilai?
2. Bagaimana pendidikan Agama Islam dengan pembiasaan?

D. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu:
1. Mengetahui pendidikan Agama Islam dengan penanaman nilai.
2. Mengetahui pendidikan Agama Islam dengan pembiasaan.
3. Sebagai pemenuhan tugas semester VI mata kuliah Ilmu Jiwa Agama yang diampu oleh Drs. H. A. Rif’an, M.PdI.

BAB II
ISI

A. Pendidikan Agama Islam dengan Penanaman Nilai

Anak-anak dengan segala potensi yang terpendam, perlu kita poles supaya benar-benar terbentuk kepribadian yang luhur. Konsep John Locke tentang tabularasa nya menggambarkan bahwa anak akan baik atau buruk tergantung lingkungan terdekatnya. Bisa jadi, orang tua, keluarga, atau masyarakat sekitar. Anak dianggap sebagai barang pasif yang tak punya kekuatan sehingga hanya bisa menerima apapun yang datang dari luar dirinya.

Berbeda dengan John Locke, Nabi Muhammad SAW mempunyai konsep bahwa anak yang lahir di dunia ini sudah membawa bekal dan potensi yang populer dengan istilah fitrah. Orang tua hanya meneruskan dan mengelola potensi ini.

Dari dua pandangan tokoh di atas, bisa kita tarik benang merah yaitu faktor penting lingkungan keluarga terutama orang tua dalam mendewasakan anak-anak mereka. Masa inilah yang seharusnya dimanfaatkan orang tua untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan Agama Islam.

Hal ini diperkuat oleh pendapat Zakiah Darajat (1996) yang mengatakan bahwa “apabila latihan-latihan keagamaan diterapkan pada waktu anak masih kecil dalam keluarga dengan cara yang kaku atau tidak benar, maka ketika menginjak usia dewasa nanti akan cenderung kurang peduli terhadap agama atau kurang merasakan pentingnya agama bagi dirinya. Sebaliknya, semakin banyak si anak mendapatkan latihan-latihan keagamaan sewaktu kecil, maka pada saat dia dewasa akan semakin merasakan kebutuhannya kepada agama”.

Kemudian bagaimana cara kita menanamkan pendidikan nilai pada anak-anak kita? Tentu saja jawabannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tetapi juga bukan mustahil ketika kita mau mengusahakan dan melihat apa yang telah dituturkan oleh Trimo, S.Pd.,M.Pd dengan analisisnya; “setidaknya ada lima pendekatan dalam penanaman nilai yakni (1) Pendekatan penanaman nilai atau inculcation approach,(2) Pendekatan perkembangan moral kognitif atau cognitive moral development approach, (3) Pendekatan analisis nilai atau values analysis approach, (4) Pendekatan klarifikasi nilai atau values clarification approach, dan (5) Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach).

1. Pendekatan Penanaman Nilai

Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach) adalah suatu pendekatan yang memberi penekanan pada penanaman nilai-nilai sosial dalam diri siswa. Pendekatan ini sebenarnya merupakan pendekatan tradisional. Banyak kritik dalam berbagai literatur barat yang ditujukan kepada pendekatan ini. Pendekatan ini dipandang indoktrinatif, tidak sesuai dengan perkembangan kehidupan demokrasi (Banks, 1985; Windmiller, 1976). Pendekatan ini dinilai mengabaikan hak anak untuk memilih nilainya sendiri secara bebas. Menurut Raths et al. (1978) kehidupan manusia berbeda karena perbedaan waktu dan tempat. Kita tidak dapat meramalkan nilai yang sesuai untuk generasi yang akan datang. Menurut beliau, setiap generasi mempunyai hak untuk menentukan nilainya sendiri. Oleh karena itu, yang perlu diajarkan kepada generasi muda bukannya nilai, melainkan proses, supaya mereka dapat menemukan nilai-nilai mereka sendiri, sesuai dengan tempat dan zamannya.

2. Pendekatan Perkembangan Kognitif

Pendekatan ini mendorong siswa untuk berpikir aktif tentang masalah-masalah moral dan dalam membuat keputusan-keputusan moral. Perkembangan moral menurut pendekatan ini dilihat sebagai perkembangan tingkat berpikir dalam membuat pertimbangan moral, dari suatu tingkat yang lebih rendah menuju suatu tingkat yang lebih tinggi (Elias, 1989).

Tujuan yang ingin dicapai oleh pendekatan ini ada dua hal yang utama. Pertama, membantu siswa dalam membuat pertimbangan moral yang lebih kompleks berdasarkan kepada nilai yang lebih tinggi. Kedua, mendorong siswa untuk mendiskusikan alasan-alasannya ketika memilih nilai dan posisinya dalam suatu masalah moral (Superka, et. al., 1976; Banks, 1985).

Pendekatan perkembangan kognitif pertama kali dikemukakan oleh Dewey (Kohlberg 1971, 1977). Selanjutnya dikembangkan lagi oleh Peaget dan Kohlberg (Freankel, 1977; Hersh, et. al. 1980). Dewey membagi perkembangan moral anak menjadi tiga tahap (level) sebagai berikut:

(1) Tahap “premoral” atau “preconventional”.

Dalam tahap ini tingkah laku seseorang didorong oleh desakan yang bersifat fisikal atau sosial;

(2) Tahap “conventional”.

Dalam tahap ini seseorang mulai menerima nilai dengan sedikit kritis, berdasarkan kepada kriteria kelompoknya.

(3) Tahap “autonomous”.

Dalam tahap ini seseorang berbuat atau bertingkah laku sesuai dengan akal pikiran dan pertimbangan dirinya sendiri, tidak sepenuhnya menerima kriteria kelompoknya.

Piaget berusaha mendefinisikan tingkat perkembangan moral pada anak-anak melalui pengamatan dan wawancara (Windmiller, 1976). Dari hasil pengamatan terhadap anak-anak ketika bermain, dan jawaban mereka atas pertanyaan mengapa mereka patuh kepada peraturan, Piaget sampai pada suatu kesimpulan bahwa perkembangan kemampuan kognitif pada anak-anak mempengaruhi pertimbangan moral mereka.
Kohlberg (1977) juga mengembangkan teorinya berdasarkan kepada asumsi-asumsi umum tentang teori perkembangan kognitif dari Dewey dan Piaget di atas. Seperti dijelaskan oleh Elias (1989), Kohlberg mendefinisikan kembali dan mengembangkan teorinya menjadi lebih rinci. Tingkat-tingkat perkembangan moral menurut Kohlberg dimulai dari konsekuensi yang sederhana, yang berupa pengaruh kurang menyenangkan dari luar ke atas tingkah laku, sampai kepada penghayatan dan kesadaran tentang nilai-nilai kemanusian universal. Lebih tinggi tingkat berpikir adalah lebih baik, dan otonomi lebih baik daripada heteronomi.

3. Pendekatan Analisis Nilai

Pendekatan analisis nilai (values analysis approach) memberikan penekanan pada perkembangan kemampuan siswa untuk berpikir logis, dengan cara menganalisis masalah yang berhubungan dengan nilai-nilai sosial. Jika dibandingkan dengan pendekatan perkembangan kognitif, salah satu perbedaan penting antara keduanya bahwa pendekatan analisis nilai lebih menekankan pada pembahasan masalah-masalah yang memuat nilai-nilai sosial. Ada enam langkah analisis nilai yang penting dan perlu diperhatikan dalam proses pendidikan nilai menurut pendekatan ini (Hersh, et. al., 1980; Elias, 1989), sebagai berikut:

Langkah Analisis Nilai Tugas Penyelesaian Masalah

1. Mengidentifikasi dan menjelaskan nilai yang terkait Mengurangi perbedaan penafsiran tentang nilai yang terkait.Mengumpulkan fakta yang berhubungan Mengurangi perbedaan dalam fakta yang berhubungan.

2. Menguji kebenaran fakta yang berkaitan Mengurangi perbedaan kebenaran tentang fakta yang berkaitan.

3. Menjelaskan kaitan antara fakta yang bersangkutan Mengurangi perbedaan tentang kaitan antara fakta yang bersangkutan.

4. Merumuskan keputusan moral sementara Mengurangi perbedaan dalam rumusan keputusan sementara.

5. Menguji prinsip moral yang digunakan dalam pengambilan keputusan Mengurangi perbedaan dalam pengujian prinsip moral yang diterima.

4. Pendekatan Klarifikasi Nilai

Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach) memberi penekanan pada usaha membantu siswa dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri, untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilai-nilai mereka sendiri. Pendekatan ini memberi penekanan pada nilai yang sesungguhnya dimiliki oleh seseorang. Bagi penganut pendekatan ini, nilai bersifat subjektif, ditentukan oleh seseorang berdasarkan kepada berbagai latar belakang pengalamannya sendiri, tidak ditentukan oleh faktor luar, seperti agama, masyarakat, dan sebagainya. Oleh karena itu, bagi penganut pendekatan ini berpandangan bahwa isi nilai tidak terlalu penting. Hal yang sangat dipentingkan dalam program pendidikan adalah mengembangkan keterampilan siswa dalam melakukan proses menilai. Ada tiga proses klarifikasi nilai menurut pendekatan ini.

Dalam tiga proses tersebut terdapat tujuh subproses sebagai berikut:

Pertama : Memilih

1. Dengan bebas.
2. Dari berbagai alternatif.
3. Setelah mengadakan pertimbangan tentang berbagai akibatnya.

Kedua : Menghargai

4. Merasa bahagia atau gembira dengan pilihannya.
5. Mau mengakui pilihannya itu di depan umum.

Ketiga : Bertindak

6. Berbuat sesuatu sesuai dengan pilihannya.
7. Diulang-ulang sebagai suatu pola tingkah laku dalam hidup (Raths, et. Al., 1978).
5. Pendekatan Pembelajaran Berbuat

Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach) memberi penekanan pada usaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan perbuatan-perbuatan moral, baik secara perseorangan maupun secara bersama-sama dalam suatu kelompok.

Menurut Elias (1989), Hersh, et. al., (1980) dan Superka, et. al. (1976), pendekatan pembelajaran berbuat diprakarsai oleh Newmann, dengan memberikan perhatian mendalam pada usaha melibatkan siswa sekolah menengah atas dalam melakukan perubahan-perubahan sosial.

Menurut Elias (1989), walaupun pendekatan ini berusaha juga untuk meningkatkan keterampilan “moral reasoning” dan dimensi afektif, namun tujuan yang paling penting adalah memberikan pengajaran kepada siswa, supaya mereka berkemampuan untuk mempengaruhi kebijakan umum sebagai warga dalam suatu masyarakat yang demokratis.

B. Pendidikan Agama Islam dengan Pembiasaan.

Witeng tresno jalaran soko kulino. Demikian cetusan pepatah Jawa ini kerap menjadi pedoman bagi kita. Apapun pendidikan yang kita peroleh dan dari mana pun ilmu yang selama ini kita dapat, semuanya tiada guna jika tidak terbiasa untuk diimplementasikan. Al Ghazali dalam Ayyuhal Walad berkata bahwa inti sari dari ilmu adalah untuk diamalkan.

Lagi-lagi, peran orang tua sebagai lingkungan terdekat sangat mempengaruhi pembiasaan anak-anaknya dalam mengejawantahkan apapun yang telah ia dapat dari luar. Pembiasaan-pembiasaan perilaku seperti melaksanakan nilai-nilai ajaran agama Islam (beribadah), membina hubungan atau interaksi yang harmonis dalam keluarga, memberikan bimbingan, arahan, pengawasan dan nasehat merupakan hal yang senantiasa harus dilakukan oleh orang tua agar perilaku remaja yang menyimpang dapat dikendalikan.
An-Nahlawi (Dahlan : 1992) menyatakan bahwa metode pendidikan dan pembinaan akhlak yang perlu diterapkan oleh orang tua dalam kehidupan keluarga adalah sebagai berikut :

1. Metode hiwar (percakapan)
2. Metode kisah.
3. Metopde mendidik dengan amtsal (perumpamaan).
4. Metode mendidik dengan teladan.
5. Metode mendidik dengan pembiasaan diri dan pengalaman.
6. Metode mendidik dengan mengambil ibroh (pelajaran) dan mau’idhoh (peringatan).
7. Metode mendidik dengan targhib (membuat senang) dan tarhib (membuat takut).

Selain Al-Nahlawi, pakar pendidikan lain seperti Al-Ghazali juga menjelaskan (Abul Quasem : 1988) bahwa perubahan dan peningkatan akhlak dapat dicapai sepanjang melalui usaha dan latihan moral yang sesuai, untuk itu maka dalam mewujudkan akhlak yang baik dapat dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu pengalaman (al-tajribah) dan latihan diri (riyadhah).

Secara teknis peran orang tua dalam membiasakan pendidikan Agama Islam di antaranya:

1. Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, dengan cara melaksanakan kewajiban-kewajiban sebagaimana yang diperintahkan dalam ajaran agama Islam. Dalam hal ini orang tua harus menjadi contoh yang baik dengan memberikan bimbingan, arahan, serta pengawasan sehingga dengan kondisi seperti ini remaja menjadi terbiasa berakhlak baik.

2. Meningkatkan interaksi melalui komunikasi dua arah. Orang tua dalam hal ini dituntut untuk dapat berperan sebagai motivator dalam mengembangkan kondisi-kondisi yang positif yang dimiliki remaja sehingga perilaku atau akhlak remaja tidak menyimpang dari norma-norma baik norma agama, norma hukum maupun norma kesusilaan.

3. Meningkatkan disiplin dalam berbagai bidang kehidupan. Orang tua dalam melaksanakan seluruh fungsi keluarganya baik fungsi agama, fungsi pendidikan, fungsi keamanan, fungsi ekonomi maupun fungsi sosial harus dilandasi dengan penanaman disiplin yang terkendali agar dapat mengendalikan akhlak atau perilaku.
Agama Islam sebagai sumber nilai akhlak harus dijadikan landasan oleh orang tua dalam membina akhlak karena agama merupakan pedoman hidup serta memberikan landasan yang kuat bagi diri. Di samping itu pembiasaan-pembiasaan yang dilakukan orang tua sehari-hari seperti sholat, membaca Al-Qur’an, menjalankan puasa serta berperilaku baik merupakan bagian penting dalam pembentukan dan pembinaan akhlak.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah melalui berbagai pembahasan di atas, maka penulis dapat mengambil kesimpulan:

1. Pendidikan Agama Islam dengan penanaman nilai menggunakan beberapa pendekatan, yaitu melalui: (1) Pendekatan penanaman nilai atau inculcation approach,(2) Pendekatan perkembangan moral kognitif atau cognitive moral development approach, (3) Pendekatan analisis nilai atau values analysis approach, (4) Pendekatan klarifikasi nilai atau values clarification approach, dan (5) Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach).

2. Metode Pendidikan Agama Islam dengan pembiasaan dapat dilakukan dengan cara:
1. Metode hiwar (percakapan).
2. Metode kisah.
3. Metopde mendidik dengan amtsal (perumpamaan).
4. Metode mendidik dengan teladan.
5. Metode mendidik dengan pembiasaan diri dan pengalaman.
6. Metode mendidik dengan mengambil ibroh (pelajaran) dan mau’idhoh (peringatan).
7. Metode mendidik dengan targhib (membuat senang) dan tarhib (membuat takut).

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis menyarankan :

a. Dalam mewujudkan pendidikan Agama Islam dengan penanaman nilai dan pembiasaan hendaknya dimaksimalkan oleh orang tua (lingkungan keluarga) dengan berbagai pendekatan yang ada.

b. Orang tua (keluarga) tak henti-hentinya meningkatkan pendidikan Agama Islam dengan pembiasaan dengan berbagai metode.

C. Kata Penutup

Demikian makalah ini dibuat. Semoga bisa menjadi tambahan wacana bagi kita terkait tentang pendidikan Agama Islam dengan penanaman nilai dan pembiasaan. Segala manfaat yang terserap semata hanya karena ridho-Nya, sedangkan kekhilafan yang ada murni hadir dari penulis. Saran krituk senantiasa terbuka sebagai acuan perbaikan tulisan ini. Terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Asfandiyar, Andi Yudha, Pendidikan Qur’ani Senantiasa Berpihak pada Anak, (http://keyanaku.blogspot.com).

Budiono, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya: KARYA AGUNG, 2005.

Kania, Ikeu, Peranan Keluarga dalam Membina Akhlak Remaja, (http//friendster.com).

Trimo, Pendekatan Penanaman Nilai dalam Pendidikan, (http://re-searchengines.com/0807trimo.html).

NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM ISLAM


Pengertian Nilai Pendidikan Islam
Nilai artinya sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan.1 Maksudnya kualitas yang memang membangkitkan respon penghargaan.2 Nilai itu praktis dan efektif dalam jiwa dan tindakan manusia dan melembaga secara obyektif di dalam masyarakat.3 Menurut Sidi Gazalba yang dikutip Chabib Thoha mengartikan nilai sebagai berikut :
Nilai adalah sesuatu yang bersifat abstrak, ia ideal, nilai bukan benda konkrit, bukan fakta, tidak hanya persoalan benar dan salah yang menuntut pembuktian empirik, melainkan penghayatan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki.4 Sedang menurut Chabib Thoha nilai merupakan sifat yang melekat pada sesuatu (sistem kepercayaan) yang telah berhubungan dengan subjek yang memberi arti (manusia yang meyakini).5 Jadi nilai adalaah sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi manusia sebagai acuan tingkah laku. 

Untuk Lebih Jelas silahkan Download  DISNI

Senin, 23 Januari 2012

KONTRIBUSI ISLAM ATAS DUNIA BARAT


KONTRIBUSI ISLAM ATAS DUNIA BARAT


A. PENDAHULUAN

Kemajuan berbagai peradaban dan ilmu pengetahuan yang ada di Barat saat ini tidaklah terjadi dengan begitu saja atau tiba-tiba. Ada proses panjang yang melatarinya. Salah satu aspek yang tidak bisa dipisahkan dengan kelahiran peradaban Barat adalah kontribusi yang diberikan Islam pada masa kejayaaannya.

Masuknya kerajaan Islam ke Spanyol menjadi pembuka dari awal kemajuan di negara-negara barat saat itu. Sejarah mencatat bahwa kerajaan Islam Spanyol sempat mengalami kemajuan yang sangat pesat walau akhirnya harus runtuh tak berbekas.

Sebagaimana yang kita lihat dimasa sekarang, wilayah-wilayah yang merupakan bekas tempat kekuasaan Islam atau lebih dikenal wilayah barat mengalami kemajuan yang sangat pesat dan ironisnya wilayah-wilayah Islam yang masih bertahan menjadi sebuah negara yang lemah dan terbelakangan. Padahal sejarah mencatat bahwa kemajuan eropa saat ini adalah merupakan hasil kontribusi dari Islam untuk dunia barat.

Yang menjadi pertanyaannya adalah jika memang kemajuan barat sekarang adalah suatu konsentrasi Islam masa lalu. Maka apa saja kontribusi Islam kedunia barat?

B. Sejarah Masuk Islam ke Eropa.

Awal berlangsungya periode Daulat Umayyah lebih memprioritaskan pada perluasan wilayah kekuasaan. Ekspansi wilayah yang sempat terhenti pada masa Khalifah Utsman dan Khalifah Ali dilanjutkan kembali oleh Daulat Umayyah. Pada zaman Muawiyah, Tunisia ditaklukkan. Di sebelah Timur, Muawiyah dapat menguasai daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan sampai ke Kabul. Angkatan lautnya melakukan serangan-serangan ke ibu kota Bizantium, Konstantinopel. Ekspansi ke timur yang dilakukan Muawiyah kemudian dilanjutkan oleh khalifah Abdul Malik. Dia mengirim tentara menyeberangi sungai Oxus dan dapat berhasil menundukkan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana dan Samarkand. Tentaranya bahkan sampai ke India dan dapat menguasai Balukhistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke Maltan.[1]

Ekspansi ke Barat secara besar-besaran dilanjutkan pada zaman Al-Walid bin Abdul Malik. Masa pemerintahan Walid adalah masa ketenteraman, kemakmuran dan ketertiban, dimana umat Islam merasa hidup bahagia. Pada masa pemerintahannya yang berjalan kurang lebih sepuluh tahun, tercatat bahwa pada tahun 711 M merupakan suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah Barat Daya, benua Eropa. Setelah Al-Jazair dan Marokko dapat ditundukan, Tariq bin Ziyad, panglima pasukan Islam, dengan pasukannya menyeberangi selat yang memisahkan antara Marokko dengan benua Eropa, dan mendarat di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Tariq). Tentara Spanyol dapat dikalahkan. Dengan demikian, Spanyol menjadi sasaran ekspansi selanjutnya. Ibu kota Spanyol, Cordova, dengan cepatnya dapat dikuasai. Menyusul setelah itu kota-kota lain seperti Seville, Elvira dan Toledo yang dijadikan ibu kota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Cordova.[2] Pasukan Islam memperoleh kemenangan dengan mudah karena mendapat dukungan dari rakyat setempat yang sejak lama menderita akibat kekejaman penguasa. Pada zaman Umar bin Abdul Aziz, serangan dilakukan ke Prancis melalui pegunungan Piranee. Serangan ini dipimpin oleh Aburrahman bin Abdullah Al-Ghafiqi. Ia mulai dengan menyerang Bordeau, Poitiers. Dari sana ia mencoba menyerang Tours. Namun, dalam peperangan yang terjadi di luar kota Tours, Al-Ghafiqi terbunuh, dan tentaranya mundur kembali ke Spanyol. Disamping daerah-daerah tersebut di atas, pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah juga jatuh ke tangan Islam pada zaman Bani Umayyah.[3]

Dengan keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik di timur maupun barat, wilayah kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arabia, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, daerah yang sekarang disebut Pakistan, Purkmenia, Uzbek, dan Kirgis di Asia Tengah. [4]

C. Kontribusi Islam ke Barat

Sejarah telah membuktikan bahwa kontribusi Islam pada kemajuan ilmu pengetahuan di dunia modern menjadi fakta sejarah yang tak terbantahkan. Bahkan bermula dari dunia Islamlah ilmu pengetahuan mengalami transmisi (penyebaran, penularan), diseminasi dan proliferasi (pengembangan) ke dunia Barat yang sebelumnya diliputi oleh masa ‘the Dark Ages’ mendorong munculnya zaman renaissance atau enlightenment (pencerahan) di Eropa.

Melalui dunia Islam-lah mereka mendapat akses untuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan modern. Menurut George Barton, ketika dunia Barat sudah cukup masak untuk merasakan perlunya ilmu pengetahuan yang lebih dalam, perhatiannya pertama-tama tidak ditujukan kepada sumber-sumber Yunani, melainkan kepada sumber-sumber Arab.

Sebelum Islam datang, menurut Gustav Le Bon, Eropa berada dalam kondisi kegelapan, tak satupun bidang ilmu yang maju bahkan lebih percaya pada tahayul. Sebuah kisah menarik terjadi pada zaman Daulat Abbasiah saat kepemimpinan Harun Al-Rasyid, tatkala beliau mengirimkan jam sebagai hadiah pada Charlemagne seorang penguasa di Eropa. Penunjuk waktu yang setiap jamnya berbunyi itu oleh pihak Uskup dan para Rahib disangka bahwa di dalam jam itu ada jinnya sehingga mereka merasa ketakutan, karena dianggap sebagai benda sihir. Pada masa itu dan masa-masa berikutnya, baik di belahan Timur Kristen maupun di belahan Barat Kristen masih mempergunakan jam pasir sebagai penentuan waktu.[5]

Bagaimana kondisi kegelapan Eropa pada zaman pertengahan (Abad 9 M) bukan hanya pada aspek mental-dimana cenderung bersifat takhayul, demikian pula halnya dalam aspek fisik material. Hal ini sebagaimana digambarkan oleh William Drapper:

“Pada zaman itu Ibu Kota pemerintahan Islam di Cordova merupakan kota paling beradab di Eropa, 113.000 buah rumah, 21 kota satelit, 70 perpustakaan dan toko-toko buku, masjid-masjid dan istana yang banyak. Cordova menjadi mashur di seluruh dunia, dimana jalan yang panjangnya bermil-mil dan telah dikeraskan diterangi dengan lampu-lampu dari rumah-rumah di tepinya. Sementara kondisi di London 7 abad sesudah itu (yakni abad XV M), satu lampu umumpun tidak ada. Di Paris berabad-abad sesudah zaman Cordova, orang yang melangkahi ambang pintunya pada saat hujan, melangkah sampai mata kakinya ke dalam lumpur”.

Menurut Philip K. Hitti, jarak peradaban antara kaum muslimin di bawah kepemimpinan Harun Al-Rasyid jauh melampaui peradaban yang ada pada orang-orang Kristen pimpinan Charlemagne.

Pertengahan abad IX M peradaban Islam telah meliputi seluruh Spanyol. Masuknya Islam ke Spanyol yaitu setelah Abdur Rahman ad-Dakhil (756 M) berhasil membangun pemerintahan yang berpusat di Andalusia.

Melalui Spanyol, Sicilia dan Perancis Selatan yang berada langsung di bawah pemerintahan Islam, peradaban Islam memasuki Eropa. Bahasa Arab menjadi bahasa internasional yang digunakan berbagai suku bangsa di berbagai negeri di dunia. Baghdad di Timur dan Cordova di Barat, dua kota raksasa Islam menerangi dunia dengan cahaya gilang-gemilang. Sekitar tahun 830 M, Alfonsi-Raja Asturia telah mendatangkan dua sarjana Islam untuk mendidik ahli warisnya. Sekolah Tinggi Kedokteran yang didirikan di Perancis (di Montpellier) dibina oleh beberapa orang Mahaguru dari Andalusia. Keunggulan ilmiah kaum muslimin tersebar jauh memasuki Eropa dan menarik kaum intelektual dan bangsawan Barat ke negeri-negeri pusatnya. Diantara mereka terdapat Roger Bacon (Inggeris); Gerbert d’Aurillac yang kemudian menjadi Paus Perancis pertama dengan gelar Sylvester II, selama 3 tahun tinggal di Todelo mempelajari ilmu matematika, astronomi, kimia dan ilmu lainnya dari para sarjana Islam.

Tidaklah mengherankan, karena pada saat kekhilafahan Islam berkuasa saat itu Spanyol menjadi pusat pembelajaran (centre of learning) bagi masyarakat Eropa dengan adanya Universitas Cordova. Di Andalusia itulah mereka banyak menimba ilmu, dan dari negeri tersebut muncul nama-nama ‘ulama besar seperti Imam Asy-Syathibi pengarang kitab Al-Muwafaqat, sebuah kitab tentang Ushul Fiqh yang sangat berpengaruh; Ibnu Hazm Al-Andalusi pengarang kitab Al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal, sebuah kitab tentang perbandingan sekte dan agama-agama dunia, dimana bukti tersebut telah mengilhami penulis-penulis Barat untuk melakukan hal yang sama.

Di Andalusia (Spanyol bagian Selatan), berbagai universitasnya pada saat itu dipenuhi oleh banyak mahasiswa Katolik dari Perancis, Inggeris, Jerman dan Italia. Pada masa itu, para pemuda Kristen dari berbagai negara di Eropa dikirim berbondong-bondong ke sejumlah perguruan tinggi di Andalusia guna menimba ilmu pengetahuan dan teknologi dari para ilmuwan muslim. Adalah Gerard dari Cremona; Campanus dari Navarra; Aberald dari Bath; Albert dan Daniel dari Morley yang telah menimba ilmu demikian banyak dari para ilmuwan muslim, untuk kemudian pulang dan menggunakannya secara efektif bagi penelitian dan pengembangan di masing-masing bangsanya. Dari sini kemudian sebuah revolusi pemikiran dan kebudayaan telah pecah dan menyebarluas ke seluruh masyarakat dan seluruh benua. Para pemuda Kristen yang sebelumnya telah banyak belajar dari para ilmuwan muslim, telah berhasil melakukan sebuah transformasi nilai-nilai yang unggul dari peradaban Islam yang kemudian diimplementasikan pada peradaban mereka (Barat) yang selanjutnya berimplikasi terhadap kemajuan diberbagai bidang ilmu pengetahuan.

Semaraknya pengembangan ilmu dan pengetahuan di dunia Islam diindikasikan dengan banyaknya perpustakaan tersebar di kota-kota dan negeri-negeri Islam yang jumlahnya sangat fantastis. Sejarah mencatat, perpustakaan di Cordova pada abad 10 Masehi mempunyai 600.000 jilid buku. Perpustakaan Darul Hikmah di Cairo mempunyai 2.000.000 jilid buku. Perpustakaan Al Hakim di Andalusia mempunyai berbagai buku dalam 40 kamar yang setiap kamarnya berisi 18.000 jilid buku. Perpustakaan Abudal Daulah di Shiros (Iran Selatan) buku-bukunya memenuhi 360 kamar. Sementara ratusan tahun sesudahnya (abad 15 M), menurut catatan Catholik Encyclopedia, perpustakaan Gereja Canterbury yang merupakan perpustakaan dunia Barat yang paling kaya saat jumlah bukunya tidak melebihi 1.800 jilid buku.

Sejarah juga mencatat bahwa Uskup Agung Raymond di Spanyol mendirikan Badan Penterjemah di Todelo yang ditujukan guna menterjemahkan sebagian besar karangan sarjana-sarjana Muslim tentang ilmu pasti, astronomi, kimia, kedokteran, filsafat, dll, dimana waktu yang dibutuhkan untuk menterjemahkannya yaitu lebih dari satu setengah abad (1135-1284 M).

Dari pusat-pusat peradaban Islam yang meliputi Baghdad, Damaskus, Cordova, Sevilla, Granada dan Istanbul, telah memancarkan sinar gemerlap yang menerangi seluruh penjuru dunia terlebih Cordova, Sevilla, Granada yang merupakan bagian dari kekuasaan Islam di Spanyol telah banyak memberikan kontribusi besar terhadap tumbuh dan berkembangnya peradaban modern di dunia Barat.

D. PENUTUP

Menyimak betapa besar kontribusi Islam terhadap lahirnya peradaban Islam berskala dunia terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, sesungguhnya kemajuan yang dicapai Barat pada mulanya bersumber dari peradaban Islam. Dunia Barat sekarang sejatinya berterima kasih kepada umat Islam. Akan tetapi pada kenyataannya pihak Barat (non Muslim) telah sengaja menutup-nutupi peran besar atas jasa para pejuang dan ilmuwan muslim tersebut yang pada akhirnya terabaikan bahkan sampai terlupakan. Oleh karena itu, umat Islam perlu kembali menggelorakan semangat keilmuan para ilmuwan muslim atas sumbangsihnya yang amat besar bagi peradaban umat manusia di dunia dalam menyongsong kembali kejayaan Islam dan umatnya.

Kita dapat menyimak, bahwa puncak pencapaian penguasaan sains dan teknologi pada zaman kejayaan umat Islam masa lalu terkait erat dengan tegaknya sistem kekhilafahan, dimana adanya sistem komando yang terintegrasi secara global yang peranan secara politik sejalan dengan peranan agama. Kita juga mendapatkan gambaran dalam sejarah bahwa sosok para pemimpin terdahulu yang shaleh selain sebagai seorang negarawan yang handal dan mumpuni, juga sebagai seorang ‘ulama wara’ yang takut pada Rabb-nya, mencintai ilmu serta mencintai rakyatnya. Pada aspek ini kita bisa melihat adanya integrasi tiga pilar utama dalam pembentukan peradaban Islam yaitu agama, politik dan ilmu pengetahuan terpadu dalam satu kendali sistem kekhilafahan dibawah pimpinan seorang khalifah.

Keberlangsungan sistem kekhilafahan terutama sejak zaman Daulat Umayyah dan Daulat Abbasiyah walaupun bersifat khalifatul mulk (estapeta kepemimpinan didasarkan pada keturunan/dinasti) yang adakalanya dipimpin oleh orang shaleh dan sekali waktu dipimpin oleh orang zhalim dan durhaka, tetapi seburuk-buruk kondisi pada masa kehilafahan, masih jauh lebih baik daripada masa setelah tercerabutnya kehilafahan, karena pada masa kekhilafahan hukum Islam masih tegak dan ditaati oleh umat Islam, demikian juga adanya ketaatan terhadap berbagai fatwa para ‘ulama.

Segala hal yang baik dari para pendahulu umat Islam seyogiannya menjadi cerminan teladan bagi kita, sementara segala hal yang kurang baik, sejatinya dijadikan sebagai pelajaran yang sangat berharga.

Awal meredupnya peradaban Islam yang terjadi sejak abad ke-8 hijriah (abad 13 M) hingga abad ke-14 hijriah (abad 20 M) yang telah mengakibatkan proses peralihan dari peradaban Islam ke keradaban Barat yang ditandai dengan masa pencerahan di dunia Barat serta terjadinya penjajahan, penaklukan dan aneksasi terhadap negeri-negeri muslim oleh armada perang dari negara-negara Barat lebih disebabkan oleh melemahnya legitimasi politik dunia Islam karena peran kekhilafahan cenderung bersifat simbol serta hanya sebatas seremonial saja hingga tumbangnya sistem kekhilafahan di dunia Islam. Dari situlah kemudian dimulainya hegemoni dunia Barat terhadap dunia Islam.


DAFTAR BACAAN


Abu Khalil, Syauqi. Harun Al Rasyid, Pemimpin dan Raja yang Mulia. Jakarta: Pustaka Azzam, 2002.

Munawiyah,cs, Sejarah Peradaban Islam, Banda Aceh : PWS IAIN Ar-Raniry, 2009

Badri yatim, Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006.

Ahmad Thomson,. Islam Andalusia Sejarah Kebangkitan dan Keruntuhan, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2004

Ira.M.Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999.

Syalabi, A. Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid I. Jakarta: Pustaka Alhusna, 1987, cet. V.

Nasution, Harun. Islam Ditinjau dari berbagai Aspeknya. Jilid I, cetakan kelima. Jakarta: UI Press, 1985.

Akses di Internet,

[1] Harun Nasution, Islam ditunjau dari berbagai aspeknya, Jilid1,(Jakarta: UI Press,1985), hlm.61

[2] Hassan Ibrahim Hassan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Yogyakarta: Kota Kembang, 1989), hlm.91

[3] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasaah Islamiyah II, (Jakarta: Rajawali Pers,2005), hlm.44

[4] Harun Nasution, Islam ditinjau…. Hlm.62

[5] Abu Khalil, Syauqi. Harun Al Rasyid, Pemimpin dan Raja yang Mulia. Jakarta: Pustaka Azzam, 2002.

Hubungan Kreativitas dengan Prestasi Belajar Agama Islam


Hubungan Kreativitas dengan Prestasi Belajar Agama Islam

Kreativitas merupakan faktor psikologis yang bersifat non interlektual, mempunyai peranan penting dan unik sebagai jiwanya perkembangan atau perubahan dan kemajuan belajar siswa. Dalam suasana belajar yang kompetitif tanpa kreativitas maka seseorang akan tertinggal dari siswa-siswi lain yang mampu mengembangkan kreativitasnya. Sesungguhnya dalam lingkungan kreativitasnya bukanlah merupakan kemampuan menciptakan hal-hal yang sama sekali baru, tetapi dapat berupa gabungan dari hal-hal yang telah ada sebelumnya. Kreativitas dapat pula merupakan kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru berdasarkan data informasi atau unsur-unsur yang telah ada.[1]

Kegiatan belajar mengajar disekolah berorientasi kepada pencapaian prestasi akademik yang tinggi oleh semua siswa. Kreativitas guru memperoleh peluang untuk berkembang didalam iklim belajar yang kondusif, maka tentu saja prestasi belajar yang tinggi dapat dicapai oleh siswa. Jika dikaitkan dengan kegiatan belajar siswa, hasil yang tinggi dapat dikatakan baik atau kurang, berhasil atau tidak, salah satu aspek ukurannya dapat dilihat melalui nilai-nilai yang dilaporkan dalam bentuk rapor atau hasil studi secara periodik. Angka-angka tersebut mencerminkan tingkat prestasi belajar siswa dan juga keberhasilan guru dalam menerapkan metode pembelajaran pada peserta didik.

Dalam proses belajar mengajar sesuai dengan perkembangannya guru tidak hanya berperan untuk memberikan informasi kepada siswa, tapi lebih jauh guru harus dapat berperan sebagai perencana, pengatur dan pendorong siswa agar dapat belajar secara efektif dan peran berikutnya adalah mengevaluasi diri keseluruh proses belajar mengajar.

Jadi dalam situasi dan kondisi bagaimana pun guru dalam mewujudkan proses belajar mengajar tidak terlepas dari aspek perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi karena guru yang baik harus mampu berperan sebagai planner, organisator, motivator dan evaluator.

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang mempunyai peranan yang sangat menentukan hasil belajar siswa. Karena itu lingkungan sekolah yang baik dapat mendorong siswa untuk dapat belajar lebih giat. Sebaliknya lingkungan sekolah yang kurang baik dapat mengurangi semangat siswa dalam belajar. Pada dasarnya baik buruknya suatu lingkungan sekolah sekolah tergantung pada:

1. Metode mengajar

Salah satu faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran adalah pemilihan metode mengajar. Pemilihan metode mengajar yang tepat dan sesuai dengan materi yang diajarkan akan membuktikan semangat siswa dalam belajar. Dengan demikian, tujuan pembelajaran akan tercapai dan akan mendatangkan hasil yang baik sebagaimana yang diharapkan.

2. Kurikulum

Kurikulum merupakan pedoman umum tentang tujuan akhir yang akan dicapai oleh suatu lembaga penduduk. Winarno Surachman mengemukakan:

“Kurikulum itulah yang menjadi pedoman yang praktis dalam melaksanakan tercapainya cita-cita pendidikan. Dengan cara ilmiah memperlihatkan segi-segi teknis didalam kurikulum dirumuskan ketentuan yang lebih terinci. Dan setiap guru berpedoman pada suatu pedoman umum yang bertujuan membawa mereka pada suatu titik akhir yang sama kesana”.[2]

Dari kutipan di atas jelaslah bahwa kurikulum diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa. Kegiatan itu sebagian besar adalah penyajian bahasan pelajaran agar siswa menerima, menyesuaikan dan mengembangkan bahan pelajaran tersebut. Dengan demikian, bahan pelajaran berpengaruh terhadap siswa dalam belajar.

3. Bahan yang diajarkan


Materi yang diajarkan kepada siswa hendaknya disesuaikan dengan taraf perkembangan dan kemampuannya. Disamping itu guru juga harus mampu merelevansikan penggunaan metode mengajar dengan penting dalam usaha meningkatkan prestasi belajar siswa dengan mencari kesesuaian antara bahan dan metode penyajian.



DAFTAR PUSTAKA

[1] Herwono, Menjadi Guru Kreatif dan Inovasi dengan Menerapkan Strategi Belajar Mengajar, (online) oktober 1,2008, http://www.digitallibrary.com/old/? = artikel, diakses 10 Juli 2009.

[2] Winarno Surachmand, Dasar dan Teknik Interaksi Belajar Mengajar , ( Bandung: Tersito, 1976), hal.26.

Memilih Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam


1. Memilih Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Perkembangan mental siswa disekolah antara lain meliputi kemampuan bekerja secara abstraksi menuju konseptual. Implikasinya pada pembelajaran harus memberikan pengalaman yang bervariasi dengan yang efektif. Pemberian harus memperhatikan minat dan kemampuan siswa.

Penentuan metode yang tepat akan turut menentukan efektivitas dan efisiensi. pembelajaran dalam sebuah pembelajaran seorang guru harus bisa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dengan memilih metode-metode pembelajaran.

Ibrahim dan Nana Syaodih dalam bukunya perencanaan pembelajaran mengemukakan bahwa: untuk memilih metode mengajar perlu dipertimbangkan faktor-faktor tertentu antara lain:
Kesesuaian dengan tujuan intruksional

Setiap metode mengajar memiliki kekuatan dan kelemahannya dilihat dari berbagai sudut. Namun yang penting bagi guru metode mengajar manapun yang akan digunakan harus jelas dahulu tujuan yang akan dicapai, baik tujuan intruksional khusus maupun intruksional umum.
Keterlaksanaan dilihat dari waktu dan sarana

Disamping bertitik tolak dari tujuan yang ingin dicapai, dalam memilih metode pembelajaran perlu dipertimbangkan pada waktu dan sarana yang tersedia, misalnya metode karya wisata sulit untuk dilakukan setiap hari karena memerlukan waktu yang cukup panjang, baik dalam tahap perencanaan maupun pelaksanaannya. Dalam situasi dimana jumlah peralatan sangat terbatas. Mungkin metode demontrasi lebih cocok untuk digunakan dibandingkan dengan metode eksperimen dimana diperlukan beberapa perangkat alat/bahan.[1]

Dalam memilih metode mengajar hendaknya diupayakan pula agar dapat terwujud proses belajar mengajar yang bermakna serta banyak melibatkan keaktifan siswa – menurut

Winarno Surakhmad bahwa pemilihan dan penentuan metode dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut:

a) Siswa

Semua perilaku siswa mewarnai suasana kelas. Dinamika kelas terlihat dengan banyak jumlah anak dalam kegiatan belajar – mengajar, kegaduhan semakin terasa jika jumlah siswa sangat banyak didalam kelas. Semakin banyak jumlah siswa dikelas semakin mudah terjadi konflik dan cenderung sukar dikelola.

Perbedaan individual siswa pada aspek biologis, interlektual dan psikologis, mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode yang mana sebaiknya guru ambil untuk menciptakan lingkungan belajar yang kreatif dalam sekon yang relatif lama demi terciptanya tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan secara operasional.

Dengan demikian jelas kematangan siswa yang bervariasi mempengaruhi pemilihan penentuan metode pembelajaran.

b) Tujuan

Tujuan adalah sasaran yang dituju dari setiap kegiatan belajar – mengajar. Tujuan belajar dikenal ada dua, yaitu tujuan intruksional umum dan tujuan intruksional khusus.

Perumusan tujuan intruksional khusus, misalnya akan mempengaruhi kemampuan yang bagaimana yang terjadi pada diri siswa proses pembelajaran pun dipengaruhinya. Demikian juga penyeleksian metode yang harus guru gunakan dikelas. Metode yang dipilih harus sejalan dengan taraf kemampuan yang hendak diisi kedalam diri setiap siswa, artinya metode lah yang harus tunduk kepada kehendak tujuan bukan sebaliknya. Karena itu, kemampuan yang bagaimana yang dikehendaki oleh tujuan maka metode mendukung sepenuhnya.

c) Situasi

Situasi kegiatan belajar – mengajar yang guru ciptakan tidak selamanya sama dari hari ke hari, pada suatu waktu boleh jadi guru ingin menciptakan situasi belajar – mengajar di alam terbuka, yaitu diluar ruang sekolah. Maka guru dalam hal ini tentu memilih metode mengajar yang sesuai dengan situasi yang diciptakan itu.

Di lain waktu sesuai dengan sifat, bahan dan kemampuan yang ingin dicapai oleh tujuan, maka guru menciptakan lingkungan belajar siswa secara berkelompok.

d) Fasilitas

Fasilitas merupakan hal yang mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode mengajar. Fasilitas adalah kelengkapan yang menunjang belajar siswa disekolah lengkap tidaknya fasilitas belajar akan mempengaruhi metode mengajar.

e) Guru

Setiap guru mempunyai kepribadian yang berbeda. Seorang guru misalnya kurang suka berbicara, tapi seorang lain suka berbicara. Guru yang sarjana pendidikan dan keguruan lebih banyak menguasai metode-metode mengajar, karena memang guru dicetak sebagai tenaga ahli dibidang keguruan wajar saja dia menjiwai dunia guru.

Latar belakang pendidikan guru diakui mempengaruhi kompetensi, kurangnya penguasaan terhadap berbagai jenis metode menjadi kendala dalam memilih dan menentukan metode, itulah yang biasanya dirasakan oleh mereka yang bukan berlatar belakang pendidikan guru. Apalagi yang memiliki pengalaman mengajar yang memadai, dengan demikian dapatlah dipahami bahwa kepribadian, latar belakang pendidikan dan penentuan metode mengajar.[2]




DAFTAR PUSTAKA

[1] Ibrahim, Nana Syaodih, Perencanaan Pembelajaran…hal.108-109.

[2] Syaiful Bahri Jamarah, Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta : RinekaCipta, 2006), hal.78-82.

Berbagai Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam


1. Berbagai Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Metode adalah cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan. Makin tepat metodenya, diharapkan makin efektif pula pencapaian tujuan tersebut. Tetapi khususnya dalam bidang pembelajaran di sekolah, ada beberapa faktor lain yang ikut berperan dalam menentukan efektifnya metode mengajar, antara lain adalah faktor guru itu sendiri, faktor anak dan faktor situasi (lingkungan belajar).[1]

Berikut ini adalah beberapa metode pembelajaran yang bisa digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran.

1. Metode Ceramah

Metode ceramah merupakan sarana utama dalam memberikan penjelasan materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa. Metode ini sangat cocok digunakan untuk semua mata pelajaran, terutama mata pelajaran yang bersangkutan dengan pemberian fakta dalam waktu yang singkat, sementara jumlah siswanya banyak.[2]

Metode ceramah merupakan cara mengajar yang paling tradisional dan telah lama dilaksanakan oleh guru-guru biasanya. Ceramah adalah penuturan bahan pelajaran secara lisan.[3] Didalam Al-qur’an banyak ditemui ayat-ayat yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw dalam bentuk ceramah, seperti yang terdapat dalam surat Yusuf ayat 3 sebagai berikut:


Artinya: “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran Ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum Mengetahui. (Q.S. Yusuf :3)

Pada ayat diatas, Allah menurunkan Al-qur’an dengan bahasa arab dan Allah menyampaikan kepada Nabi Muhammad Saw dengan bercerita atau ceramah, metode ceramah ini tidak hanya digunakan Nabi dalam menyampaikan dakwahnya tetapi Allah juga menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi Saw dalam bentuk ceramah.

Sejak dahulu guru dalam usaha menyalurkan pengetahuannya pada siswanya ialah secara lisan atau ceramah. Cara ini kadang-kadang membosankan, maka dalam pelaksanaannya memerlukan keterampilan tertentu, agar gaya penyajiannya tidak membosankan dan menarik perhatian siswa.[4] Metode ceramah ini juga digunakan untuk materi pelajaran yang menggunakan alat bantu mengajar seperti denah dan alat peraga.

Adapun materi pelajaran agama Islam di SMA yang cocok untuk diterapkan metode ini adalah tentang perkembangan Islam pada abad pertengahan.[5] Dan juga semua materi juga dapat digunakan metode ini.

2. Metode Tanya Jawab

Metode tanya jawab adalah suatu teknih mengajar yang dapat membentuk kekurangan mengajar yang terdapat pada metode ceramah, ini disebabkan karena guru memperoleh gambaran sejauh mana siswa dapat mengerti dan dapat mengungkapkanya.[6]

Dalam prinsip belajar-mengajar, bertanya memegang peranan yang penting sebab pertanyaan yang tersusun baik dengan pengajuan yang tepat akan:

a. Meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar.

b. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap masalah yang sedang dibicarakan.

c. Mengembangkan pola berpikir dan belajar aktif siswa, sebab berpikir itu sendiri adalah bertanya.

d. Menuntut proses berpikir siswa, sebab pertanyaan yang baik akan membantu siswa agar dapat menentukan jawaban yang baik.

e. Memusatkan perhatian murid terhadap masalah yang sedang dibahas.

Adapun materi pelajaran pendidikan agama Islam di SMA yang dapat diterapkan dalam dengan metode ini adalah seputar jual beli dalam Islam.[7]

3. Metode Diskusi

Metode diskusi adalah cara penyampaian pelajaran di mana siswa-siswa diharapkan memahami masalah yang merupakan pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis, untuk dipecahkan bersama.[8]

Dalam diskusi, setiap orang diharapkan memberikan sumbangan pikiran, sehingga dapat diperoleh pandangan dari berbagai sudut berkenaan dengan masalah tersebut. Oleh karena itu dalam penerapan metode diskusi ini dapat merangsang siswa untuk lebih kreatif khususnya dalam memberikan gagasan dan ide-ide, juga dapat melatih siswa untuk membiasakan diri bertukar pikiran dalam mengatasi setiap permasalahan.

Dalam Al-qur’an banyak terdapat ayat-ayat tentang penyelesaian masalah dengan bentuk diskusi seperti dalam surat Al-Ankabut ayat 46 sebagai berikut:

Artinya : “Dan janganlah kamu berdebat denganAhli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan Katakanlah: "Kami Telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami Hanya kepada-Nya berserah diri". (Q.S. Al-Ankabut : 46 )

Adapun materi pembelajaran agama Islam di SMA yang cocok untuk diterapkan metode ini adalah materi tentang riba.[9]

4. Metode Demontrasi

Metode demontrasi merupakan metode mengajar yang cukup efektif, sebab membantu parasiswa untuk memperoleh jawaban dengan mengamati suatu proses atau peristiwa tertentu.[10] Melalui metode demontrasi guru memperlihatkan suatu proses, peristiwa, atau cara kerja suatu alat pada siswa.

Adapun materi yang tepat untuk diterapakan metode ini dalam pendidikan agama Islam di SMA adalah materi pelajaran tentan perawatan jenazah.[11]

5. Metode Eksperimen

Eksperimen merupakan suatu pemecahan masalah yang didalamnya berlangsung pengujian suatu hipotesis, dan terdapat variabel yang dikontrol secara ketat.[12] Dalam metode eksperimen keaktifan tidak hanya dari pihak guru, metode eksperimen langsung melibatkan para siswa melakukan percobaan untuk mendapatkan jawaban terhadap suatu permasalahan. Akan tetapi eksperimen ini sering diterapkan pada bidang studi sains, jarang diterapkan pada bidang studi agama.

Pada metode ini yang dapat diterapkan pada materi bersuci yaitu guru mengajak siswa untuk meneliti dilaboratorium tentang air suci dan menyucikan.

6. Metode Pemberian Tugas

Metode ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada siswa melakukan tugas atau kegiatan yang berhubungan dengan pelajaran, seperti mengerjakan soal-soal, mengumpulkan kliping dan sebagainya. Metode ini dapat dilakukan dalam bentuk tugas/kegiatan individual atau pun kerja kelompok, dan dapat merupakan unsur penting dalam peningkatan pemecahan masalah atau problem solving.[13]

Metode pemberian tugas ini sangat baik dilakukan dalam sebuah pembelajaran karena dengan adanya tugas, siswa akan mengulangnya kembali materi-materi yang diberikan oleh guru, sehingga sebagian materi pelajaran akan menempel diingatan siswa. Tugas yang diberikan kepada siswa bisa berbentuk pertanyaan-pertanyaan, dapat juga diberikan berupa tugas tertulis dalam bentuk lisan, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-qiyamah ayat 17-18 sebagai berikut:

Artinya: “Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu”(Q.S. Al-Qiyamah:17-18)

Adapun materi pelajaran agama Islam di SMA yang tepat diterapkan pada metode ini adalah materi tentang pemahaman ayat al-qur’an surat al-baqarah ayat 148, al-fathir ayat 32-33.[14] yaitu anak ditugaskan untuk menghafal dirumah ayat tersebut.

7. Metode Karya Wisata

Karya wisata adalah merupakan suatu perjalanan atau pesiar yang dilakukan oleh siswa untuk memperoleh pengalaman belajar, terutama pengalaman langsung dan merupakan bagian intergraf dari kurikulum sekolah. Meskipun karya wisata memiliki banyak hal yang bersifat non akademis, tujuan umum pendidikan dapat segera tercipta terutama berkaitan dengan pengembangan wawasan pengalaman tentang dunia Islam.[15]

Dalam penerapan metode karya wisata ini anak-anak tidak merasa jenuh dan bosan dalam pembelajaran karena mereka bisa menikmati dunia luar. Setelah selesai melakukan kunjungan, siswa diminta untuk membuat atau menyampaikan laporan.

Materi pendidikan agama Islam SMA yang cocok di terapkan dalam metode ini adalah materi perkembangan Islam pada masa pembaharuan.[16]

8. Metode Sosiodrama

Metode sosiodrama atau bermain peran merupakan metode yang sering digunakan dalam mengajarkan nilai-nilai dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam hubungan sosial dan orang-orang dilingkungan keluarga, sekolah ataupun masyarakat. Dalam pelaksanaannya siswa-siswa diberikan berbagai peran tertentu dan melaksanakan peran tersebut, serta mendiskusikannya dikelas.[17]

Dengan adanya penerapan metode sosiodrama ini akan mendorong siswa untuk lebih percaya diri dan akan lebih paham dengan pelajaran yang disampaikan guru karena para peserta didik telah memperagakan apa yang ada dalam materi pelajaran.

Materi pendidikan agama Islam di SMA yang cocok diterapkan dengan metode ini adalah materi perilaku sifat-sifat terpuji.[18]

9. Metode Simulasi

Simulasi adalah tiruan atau perbuatan yang hanya pura-pura saja (dari kata simulate yang artinya pura-pura atau berbuat seolah-olah dan simulation artinya tiruan atau perbuatan yang pura-pura saja).

Metode simulasi ini bertujuan:

1) Untuk melatih keterampilan tertentu, baik yang bersifat profesional maupun bagi kehidupan sehari-hari.

2) Untuk memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip.

3) Untuk latihan memecahkan masalah.

Sebagai latihan, sebelum melaksanakan pekerjaan dalam situasi sebenarnya, simulasi kiranya merupakan cara belajar yang menguntungkan untuk melatih keterampilan tertentu.

Materi pendidikan agama Islam di SMA yang cocok diterapkan dalam metode ini adalah tentang perawatan jenazah.[19]

10. Metode Pemecahan Masalah

Metode pemecahan masalah adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran di mana siswa diharapkan dengan kondisi masalah dari masalah sederhana menuju masalah yang sulit atau muskil. Materi yang dapat diterapkan dengan metode ini adalah materi tentang jinayah dan hudud[20]

11. Metode Proyek

Metode proyek adalah cara mengerjakan dengan jalan memberikan kegiatan belajar kepada siswa untuk memilih, merancang dan memimpin pikiran serta perkataannya, anak dilatih agar berencana didalam tugas-tugasnya.[21]

Berdasarkan keterangan diatas, maka penulis dapat memahami metode bersifat kelompok, yaitu metode yang dimaksud untuk mengajarkan keahlian siswa dalam hal mengolah pola pikir terutama merancang perkataan dalam menyelesaikan tugas-tugas yang mereka hadapi, artinya siswa diajarkan agar mampu berencana dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka.

Materi yang dapat diterapkan dalam metode ini adalah materi Khutbah Jum’at dan dakwah.[22]

12. Metode Drill

Metode drill adalah melakukan kegiatan tertentu secara berulang-ulang sebagai latihan, baik yang menyangkut gerak-gerak perbuatan, kecakapan tertentu dan juga terpakai untuk kegiatan-kegiatan interlek atau ingatan, seperti menghafal kali-kali secara mekanis dan lain sebagainya. Dalam metode ini aktivitas yang menonjol dipihak siswa.[23]

Metode drill merupakan metode yang bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa dalam melakukan kegiatan interlektual siswa, seperti dalam menghafal mata pelajaran yang melakukan hafalan.

Materi yang dapat diterapkan dalam metode ini adalh materi tentang hafalan surah Al-qur’an surat Ar-Rum ayat 41-42, Al-A’raf ayat 56-58.[24]

13. Metode Resitasi

Metode resitasi adalah suatu cara dalam proses belajar mengajar manakala guru memberikan tugas tertentu kepada siswa dan mengerjakannya, kemudian tugas tersebut dipertanggung jawabkan.[25]

Berdasarkan keterangan di atas, maka dapat diketahui bahwa metode ini perlu juga digunakan agar siswa bisa mempertanggung jawabkan setiap ilmu pengetahuan yang telah diterima dari gurunya. Metode ini diuji dengan cara memberikan tugas tertentu kepada siswa.

Materi pendidikan agama Islam di SMA yang dapat diterapkan dengan metode ini adalah semua materi di pendidikan agama Islam di SMA. Dari berbagai macam metode di atas, kita ketahui bahwa metode dalam rangkaian sistem pembelajaran memegang peran yang sangat penting. Keberhasilan implementasi strategi pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan strategi pembelajaran, karena strategi pembelajaran hanya dapat di implementasikan melalui penggunaan metode pembelajaran maka akan mudah terlaksananya pembelajaran yang kreatif.


 DAFTAR PUSTAKA

[1] Suryo Subroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002), hal.149.

[2] M.Ngalim purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis (Jakarta:Bina Aksara,1999), hal.123.

[3] Ibrahim, Nana Syaodih, Perencanaan Pembelajaran, (Jakarta: PT Asdi Maha Satya, 2002), hal.106.

[4] Roetiyah, Strategi Belajar Mengajar, ( Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hal.136.

[5] Syamsuri, Pendidikan Agama Islam... hal. 90.

[6]Zakiah Darajat. dkk, Metode Khusus Pengajaran Islam, Cet,I, (Jakarta : Rineka Cipta,1997), hal. 99.

[7] Syamsuri, Pendidikan Agama Islam… hal. 43.

[8]Syarif Bahri Djamarah dan Azwan Zein, Strategi Belajar Mengajar, Cet.I, (Jakarta: Rineka Cipta,1997), hal.99.

[9] Syamsuri, Pendidikan Agama Islam... hal.55.

[10] Ibrahim, Nana Syaodih, Perencanaan Pembelajaran,…hal.106.

[11] Syamsuri, Pendidikan Agama Islam… hal. 144.

[12] Ibid., hal.106.

[13] Ibid., hal.107.

[14] Syamsuri, Pendidikan Agama Islam…, hal.1.

[15] E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, ( Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2008 ), hal. 107.

[16] Syamsuri, Pendidikan Agama Islam…hal.216.

[17] Ibrahim, Nana Syaodih, Petrencanaan Pembelajaran... hal.107.

[18] Syamsuri, Pendidikan Agama Islam... hal. 76.

[19] Syamsuri, Pendidikan Agama Islam… hal. 144.

[20] Syamsuri, Pendidikan Agama Islam... hal. 162.

[21] Tayar Yusuf dan Syaiful Bahri Djamarah, Metode Pembelajaran Agama dan Bahasa Arab, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), hal.95.

[22] Syamsuri, Pendidikan Agama Islam…, hal. 188.

[23] Sutari Imam Bernadi, Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis, (Yogyakarta: AndiUttset, 1993), hal.89.

[24] Syamsuri, Pendidikan Agama Islam…, hal. 103.

[25] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. ( Bandung: Remaja Rosda Karya, 1991), hal.237.

DumPueNa CARA

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management